Blog IRMA Al - Kautsar Suradadi di buat untuk ajang Silaturrokhim antar Remaja Musholla Se-Desa Suradadi pada khususnya, dan umumnya untuk masyarakat semuanya. Semoga bermanfaat, fiddini waddunya wal akhirot. Aamiin.....
Ahlan Wasahlan Bikhudhurikum....
Kamis, 11 Juli 2013
"PERMASALAHAN SEPUTAR PUASA"
PERMASALAHAN SEPUTAR PUASA
1. PERGI SESUDAH FAJAR MEMBATALKAN PUASA
Bolehkan orang yang bepergian setelah Fajar membatalkan puasa?
Jawab: Tidak boleh, karena bolehnya membatalkan puasa bagi musâfir,
jika berangkatnya sebelum fajar. Namun menurut Imam Muzâni tetap
diperbolehkan membatalkan puasa. Referensi:
Kasih sayang seorang ibu begitu besar pada anak tercintanya. Ia rela
melakukan apapun demi pertumbuhan dan kesehatan anaknya. Termasuk ketika
menyuapin si kecil, sang ibu terlebih dulu mengunyah sebelum makanan
diberikan pada anaknya, padahal ia dalam keadaan berpuasa. Apakah
mengunyah makanan diperbolehkan bagi orang yang berpuasa sementara aroma
dan rasa makanannya sangat kentara di lidah?
Jawab: Boleh,
dengan syarat tanpa menelan makanan yang dikunyah tersebut, walaupun
aroma dan rasa makanan masih terasa dilidah.
Untuk
mengantisipasi rasa haus dan lapar saat berpuasa, agama menganjurkan
agar mengakhirkan makan sahur. Hal ini tidak lain supaya lebih kuat dan
semangat dalam menjalankan ibadah puasa. Namun entah karena apa,
terkadang sebagian orang melaksanakan makan sahur sebelum jam 12 malam.
Apakah yang demikian masih mendapatkan kesunahan sahur?
Jawab: Tidak, karena waktu sahur mulai pertengahan malam. Referensi: حاشية الباجورى الجزء 1 صحـ : 293 مكتبة دار الكتب العلمية
( وَقَوْلُهُ وَتَأْخِيْرُ السَّحُوْرِ ) - الى أن قال - وَيَدْخُلُ
وَقْتُهُ بِنِصْفِ اللَّيْلِ فَاْلأَكْلُ قَبْلَهُ لَيْسَ بِسَحُوْرٍ فَلاَ
يَحْصُلُ بِهِ السُنَّةُ اهـ
5. NIAT PUASA SENIN-KAMIS PLUS QADLA'
Seseorang mempunyai tanggungan qadlâ’ puasa Ramadlan. Kebetulan disaat
meng-qadlâ’ puasa bertepatan dengan hari Senin. Kesempatan ini tidak
disia-siakan olehnya, disamping melakukan puasa qadlâ’, ia juga niat
mengerjakan puasa sunah. Bisakah ia mendapatkan dua pahala, yakni pahala
qadlâ’ dan sunah?
Kadang-kadang pada hari-hari tertentu, puasa disunahkan karena dua
sebab, semisal hari Kamis bertepatan dengan hari ‘Âsyûrâ. Apakah orang
yang berpuasa pada hari tersebut bisa memperoleh dua kesunahan?
“Terpaksa” sering dibuat alasan sebagai pembenaran atas semua
tindakan. Sebagaimana realita yang terjadi di sekeliling kita. Walaupun
sudah tahu bulan puasa, masih saja ada yang berjualan makanan disiang
hari. Bolehkah menjual makanan disiang hari pada saat bulan Ramadlan?
Jawab: Tidak boleh, karena mendorong terjadinya maksiat. Kecuali menjual makanan untuk persiapan buka puasa.
Mandi disaat cuaca panas sangat menyegarkan tubuh, terlebih lagi
ketika tubuh gerah dan berkeringat. Hal ini dimanfaatkan oleh sebagian
orang yang tubuhnya mulai lemas karena berpuasa. Apakah masuknya air
tanpa disengaja pada bagian anggota tubuh semisal telinga dapat
membatalkan puasa?
Jawab: Membatalkan puasa, kecuali ketika mandi wajib atau sunah.
Kenyataan dimasyarakat, tidak sedikit yang harus dipertegas kembali
mengenai sah dan tidaknya sebuah ibadah. Contoh kecil, seseorang yang
sedang melaksanakan ibadah puasa mengobati matanya dengan Visin,
ternyata obat tetes tersebut sangat terasa di tenggorokan. Apakah hal
tersebut membatalkan puasa?
Jawab: Puasanya tidak batal.
Karena obat mata yang terasa di tenggorokan itu masuk melalui pori-pori,
bukan lubang yang tembus ke tenggorokan, seperti hidung.
Kehidupan masyarakat yang di bawah garis kemiskinan sangat
memperihatinkan. Mereka harus banting tulang, tidak mengenal lelah demi
menutupi kebutuhan anak istrinya. Pekerjaan beratpun dianggap hal yang
biasa, ketimbang tidak sama sekali. Apakah pekerja berat seperti kuli
bangunan, penuai padi dan sesamanya boleh membatalkan puasa?
Jawab: Boleh, apabila dengan puasa akan mengalami kepayahan (masyaqqat). Referensi: بشرى الكريم الجزء 2 صحـ : 72 مكتبة الحرمين
وَيَلْزَمُ أَهْلَ الْعَمَلِ الْمُشِقِّ فِيْ رَمَضَانَ
كَالْحَصَّادِيْنَ وَنَحْوِهِمْ تَبْيِيْتُ النِّيَةِ ثُمَّ إِنْ لَحِقَهُ
مِنْهُمْ مَشَقَّةٌ شَدِيْدَةٌ أَفْطَرَ وَإِلاَّ فَلاَ وَلاَ فَرْقَ
بَيْنَ اْلأَجِيْرِ وَالْغَنِيِّ وَغَيْرِهِ أَوْ الْمُتَبَرِّعِ وَإِنْ
وَجَدَ غَيْرَهُ وَتَأْتَّى لَهُم الْعَمَلُ لَيْلاً اهـ
11. JUMLAH QADLA PUASA TIDAK DIKETAHUI
Pintu taubat belum tertutup, selama nyawa masih dikandung badan dan
bersungguh-sungguh insya Allah akan terampuni. Namun bertaubat tidak
cukup hanya dengan penyesalan, disamping itu juga harus meng-qadlâ’-i
semua kewajiban yang telah ditinggalkan, termasuk puasa. Berapakah puasa
yang harus di-qadlâ’, bila seseorang lupa jumlah puasa yang
ditinggalkannya?
Jawab: Wajib meng-qadlâ’ puasa sampai yakin sudah dikerjakan semua.
Sebagaimana telah diketahui, bagi perempuan ketika keluar darah haid
tidak boleh melakukan sebuah ibadah yang mensyaratkan niat atau suci
dari hadats, seperti: shalat, thawaf dan sesamanya. Begitu pula
sebaliknya, ia harus segera melakukan ibadah fardlu saat darah haid
mulai berhenti. Sahkah ibadah puasanya perempuan yang sudah mampet dari
haidnya akan tetapi belum mandi besar?
Menikah dan berkeluarga bukan pekerjaan mudah, butuh kesiapan dzahir
dan batin. Taruh saja sopir bus yang setiap harinya jauh dari keluarga
karena tuntutan ekonomi. kehidupannya selalu di perjalanan menuju satu
kota ke kota yang lain demi anak dan istri. Apakah bagi pak sopir setiap
harinya diperbolehkan membatalkan puasa mengingat ia selalu bepergian?
Jawab: Tidak boleh, karena akan meninggalkan kewajiban puasa
selama-lamanya, kecuali ada niat meng-qadlâ’ puasa. Namun menurut Ibn
Hajâr selama dalam bepergian boleh membatalkan puasa.
Dalam melaksanakan ritual puasa banyak hal yang perlu diketahui
terkait masalah batal dan tidaknya puasa. Sebut saja kang Asror, entah
karena apa, disaat sedang berpuasa gusinya sering mengeluarkan darah.
akibatnya percampuran air ludah dan darah sulit dihindari. Hal ini akan
menjadi problem ketika ia mau menelan ludahnya. Apakah puasanya kang
Asror batal saat menelan ludah?
Jawab: Batal, kecuali jika darah yang keluar dari gusi tersebut terus menerus. Dengan demikian hal itu termasuk masyaqqat. Referensi: & بُغْيَةُ المْسُتَرْشِدِيْنَ للِسَيّدِ باعَلَوِي الحضرمي صحـ : 182 مكتبة دار الفكر
(مَسْأَلَةُ ك) يُعْفَى عَنْ دَمِّ اللِّثَّةِ الَّذِيْ يَجْرِيْ
دَائِماً أَوْ غَالِباً وَلاَ يُكَلَّفُ غَسْلٌ فِيْهِ لِلْمَشَقَّةِ
بِخِلاَفِ مَا لَوِ احْتَاجَ لِلْقَيْءِ بِقَوْلِ طَبِيْبٍ فَالَّذِيْ
يَظْهَرُ الْفِطْرُ بِذَلِكَ نَظِيْرُ إِخْرَاجِ الذُّبَابَةِ وَلَوِ
ابْتُلِيَ بِدُوْدٍ فِيْ بَاطِنِهِ فَأَخْرَجَهُ بِنَحْوِ أُصْبُِعِهِ لَمْ
يُفْطِرْ إِنْ تَعَيَّنَ طَرِيْقاً قِيَاسًا عَلَى إِدْخَالِهِ
الْبَاسُوْرَ بِهِ اهـ & أسنى المطالب الجزء 1 صـ : 417 مكتبة دار الكتاب الإسلامي
وَيُفْطِرُ بِهِ إنْ تَنَجَّسَ كَمَنْ دَمِيَتْ لِثَتُهُ أَوْ أَكَلَ
شَيْئًا نَجْسًا وَلَمْ يَغْسِلْ فَمَهُ حَتَّى أَصْبَحَ وَإِنِ ابْيَضَّ
رِيقُهُ ( قَوْلُهُ كَمَنْ دَمِيَتْ لِثَتُهُ ) قَالَ اْلأَذْرَعِيُّ لاَ
يَبْعُدُ أَنْ يُقَالَ مَنْ عَمَّتْ بَلْوَاهُ بِدَمِ لِثَتِهِ بِحَيْثُ
يَجْرِي دَائِمًا أَوْ غَالِبًا أَنَّهُ يُتَسَامَحُ بِمَا يَشُقُّ
اَلإِحْتِرَازُ عَنْهُ وَيَكْفِي بَصْقُهُ الدَّمَ وَيُعْفَى عَنْ أَثَرِهِ
وَلاَ سَبِيلَ إلَى تَكْلِيفِهِ غَسْلُهِ جَمِيعَ نَهَارِهِ إِذَا
الْفَرْضُ أَنَّهُ يَجْرِي دَائِمًا أَوْ يَتَرَشَّحُ وَرُبَّمَا إِذَا
غَسَلَهُ زَادَ جَرَيَانُهُ اهـ & تحفة المحتاج في شرح المنهاج الجزء 1 صحـ : 321 مكتبة دار إحياء التراث العربي
وَتَقَدَّمَ عَنْ ع ش أَنَّهُ لَوِ ابْتُلِيَ شَخْصٌ بِدَمْيِ اللِّثَةِ
بِأَنْ يَكْثُرَ وُجُودُهُ مِنْهُ بِحَيْثُ يَقِلُّ خُلُوُّهُ عَنْهُ
يُعْفَى عَنْهُ اهـ
15. MENETESKAN OBAT DI TELINGA
Kesehatan jasmani sangat mahal harganya. Orang yang menderita sakit,
meskipun hanya ditelinga, akan kebingungan karenanya. Bahkan berbagai
upaya ia lakukan demi kesembuhan penyakitnya. Sahkah puasa seseorang
yang menaruh obat dilubang telinganya, mengingat ia merasa kesakitan?
Jawab: Sah, jika yakin obat tersebut bisa menyembuhkan atau menghilangkan rasa sakit, karena termasuk dlarûrat.
Sering kita temui, ketika seseorang bersiwakan atau menggosok gigi,
alat siwak atau sikat giginya dibasahi dengan air. Hal ini sangat rawan
sekali, air bekas basuhan alat siwak atau sikat gigi tersebut ikut
tertelan bersamaan dengan ludah. Apakah hal yang demikian dapat
membatalkan puasa?
Jawab: Batal, jika air yang digunakan untuk membasahi siwak atau sikat gigi tersebut ikut tertelan. Referensi: & حاشية الجمل الجزء 2 صحـ : 230 مكتبة دار الفكر
( قَوْلُهُ أَوْ مُخْتَلِطًا بِغَيْرِهِ ) مِثْلُهُ مَا لَوْ بَلَّ
خَيْطًا بِرِيقِهِ وَرَدَّهُ إلَى فَمِهِ كَمَا يُعْتَادُ عِنْدَ الْفَتْلِ
وَعَلَيْهِ رُطُوبَةٌ تَنْفَصِلُ وَابْتَلَعَهَا أَوِ ابْتَلَعَ رِيقَهُ
مَخْلُوطًا بِغَيْرِهِ الطَّاهِرِ كَمَنْ فَتَلَ خَيْطًا مَصْبُوغًا
تَغَيَّرَ رِيقُهُ بِهِ أَيْ وَلَوْ بِلَوْنٍ أَوْ رِيحٍ فِيمَا يَظْهَرُ
مِنْ إِطْلاَقِهِمْ إنِ انْفَصَلَتْ عَيْنٌ مِنْهُ لِسُهُولَةِ
التَّحَرُّزِ عَنْ ذَلِكَ وَمِثْلُهُ كَمَا فِي اْلأَنْوَارِ مَا لَوِ
اسْتَاكَ وَقَدْ غَسَلَ السِّوَاكَ وَبَقِيَتْ فِيهِ رُطُوبَةٌ تَنْفَصِلُ
وَابْتَلَعَهَا وَخَرَجَ بِذَلِكَ مَا لَوْ لَمْ يَكُنْ عَلَى الْخَيْطِ
مَا يَنْفَصِلُ بِفَتْلِهِ أَوْ عَصْرِهِ أَوْ لِجَفَافِهِ فَإِنَّهُ لاَ
يَضُرُّ اهـ
17. MASUKNYA DAHAK KE DALAM PERUT
Seseorang yang terserang penyakit flu, biasanya hidung tersumbat akibat
banyaknya dahak di dalamnya. Terkadang dahak tersebut tertelan dengan
sendirinya karena sulitnya untuk menahan agar tidak tertelan. Batalkah
puasa seseorang yang di rongga hidungnya terdapat dahak, kemudian masuk
ke dalam perutnya?
Jawab: Dipeinci; >>Jika telah mencapai batas luar tenggorokan, maka haram menelan dan membatalkan puasa. >>Jika masih di batas dalam tenggorokan, maka boleh dan tidak membatalkan puasa.
Referensi: & كفاية الأخيار الجزء الأول صحـ : 205 مكتبة دار إحياء الكتب
وَلَوْ نَزَلَتْ نُخَامَةٌ مِنْ رَأْسِهِ وَصَارَتْ فَوْقَ الْحُلْقُوْمِ
نُظِرَ إِنْ لَمْ يَقْدِرْ عَلَى إِخْرَاجِهَا ثُمَّ نَزَلَتْ إِلَى
الْجَوْفِ لَمْ يُفْطِرْ وَإِنْ قَدَرَ عَلَى إِخْرَاجِهَا وَتَرَكَهَا
حَتَّى نَزَلَتْ بِنَفْسِهَا أَفْطَرَ أَيْضًا لِتَقْصِيْرِهِ اهـ
18. MAKAN KARENA LUPA
Sering terjadi, seseorang yang sedang puasa pada awal-awal bulan
Ramadlan, lupa akan puasanya. Akhirnya ia makan dengan sepuas-puasnya
hingga kekenyangan. Apakah puasa dalam kasus diatas dihukumi batal
mengingat ia makan sampai kekenyangan?
Jawab: Terjadi perbedaan pendapat. Menurut Imam an-Nawâwi hukum puasanya tidak batal. Sementara menurut Imam ar-Rôfi'i batal.
Sambil menunggu buka puasa, biasanya masyarakat mencari kesibukan
masing-masing, semisal ngaji, mendengarkan siraman rohani dsb. Tiba-tiba
ketika menjelang maghrib, ternyata listrik padam disertai mendung
menyelimuti langit. Sehingga mereka kesulitan mencari informasi waktu
adzan Magrib. Karena sudah lama menunggu, akhirnya mereka menduga bahwa
waktu berbuka puasa telah tiba. Namun di tengah-tengah berbuka, mereka
mendengar adzan Maghrib baru dikumandangkan. Sahkah puasa seseorang
sebagaimana deskripsi di atas?
Jawab: Puasanya tidak sah dan wajib meng-qadlâ’, kalau memang saat ia berbuka, waktu maghrib belum tiba. Referensi:
Entah
karena apa, seseorang yang sedang berpuasa pingsan disiang hari,
kemudian siuman kembali sesaat sebelum maghrib tiba. Apakah puasanya
tetap sah dalam kasus di atas?
Sebagaimana kita ketahui, bahwa membatalkan puasa wajib seperti puasa
Ramadlan hukumnya tidak boleh jika tidak ada udzur. Bagaimana hukum
membatalkan puasa sunah?
Jawab: Makruh, jika tidak ada udzur. Referensi: & كفاية الأخيار في حل غاية الإختصار الجزء 1 صحـ : 215 مكتبة دار إحياء الكتب
وَمَنْ شَرَعَ فِيْ صَوْمِ تَطَوُّعٍ لَمْ يَلْزَمْهُ إِتْمَامُهُ
وَيُسْتَحَبُّ لَهُ اَلإِتْمَامُ فَلَوَ خَرَجَ مِنْهُ فَلاَ قَضَاءَ
لَكِنْ يُسْتَحَبُّ وَهَلْ يُكْرَهُ أَنْ يُخْرِجَ مِنْهُ ؟ نَظَرٌ إِنْ
خَرَجَ لِعُذْرٍ لَمْ يُكْرَهْ وَ إِلاَّ كُرِهَ وَمِنَ الْعُذْرِ أَنْ
يُعَزَّ عَلَى مَنْ يُضِيْفُهُ امْتِنَاعُهُ مِنَ اْلأَكْلِ اهـ
22. MASUKNYA DEBU KE MULUT
Ketika musim kemarau tiba, biasanya debu halus beterbangan kemana-mana
akibat tiupan angin yang lumayan kencang, lebih-lebih di daerah yang
tanahnya tandus. Apakah masuknya debu ke mulut dapat membatalkan puasa?
Jawab: Tidak batal, asalkan tidak disengaja. Namun bila disengaja,
seperti membuka mulutnya, maka terjadi perbedaan pendapat, menurut qaul
Ashah tetap tidak batal. Referensi: & المجموع الجزء 6 صحـ : 358 مطبعة المنيرية
( فَرْعٌ ) اتَّفَقَ أَصْحَابُنَا عَلَى أَنَّهُ لَوْ طَارَتْ ذُبَابَةٌ
فَدَخَلَتْ جَوْفَهُ أَوْ وَصَلَ إلَيْهِ غُبَارُ الطَّرِيقِ أَوْ
غَرْبَلَةُ الدَّقِيقِ بِغَيْرِ تَعَمُّدٍ لَمْ يُفْطِرْ قَالَ
أَصْحَابُنَا وَلاَ يُكَلَّفُ إطْبَاقُ فَمِهِ عِنْدَ الْغُبَارِ
وَالْغَرْبَلَةِ ِلأَنَّ فِيهِ حَرَجًا فَلَوْ فَتَحَ فَمَهُ عَمْدًا
حَتَّى دَخَلَهُ الْغُبَارُ وَوَصَلَ جَوْفَهُ فَوَجْهَانِ حَكَاهُمَا
الْبَغَوِيُّ وَالْمُتَوَلِّيُ وَغَيْرُهُمَا قَالَ الْبَغَوِيُّ (
أَصَحُّهُمَا ) لاَ يُفْطِرُ ِلأَنَّهُ مَعْفُوٌّ عَنْ جِنْسِهِ (
وَالثَّانِيُّ ) يُفْطِرُ لِتَقْصِيرِهِ وَهُوَ شَبِيهٌ بِالْخِلاَفِ
السَّابِقِ فِي دَمِ الْبَرَاغِيثِ إذَا كَثُرَ وَفِيمَا إذَا تَعَمَّدَ
قَتْلَ قَمْلَةٍ فِي ثَوْبِهِ وَصَلَّى وَنَظَائِرِ ذَلِكَ وَاَللَّهُ
أَعْلَمُ اهـ
23. AIR MASUK KETELINGA SAAT MANDI Sepasang
pasutri dimalam bulan Ramadlan melakukan hubungan intim. Anehnya pada
saat waktu sahur, mereka tidak langsung mandi besar akan tetapi menunggu
waktu subuh tiba. Akibatnya, saat mereka mandi besar telinganya
kemasukan air, sementara mereka dalam keadaan puasa. Apakah telinga yang
kemasukan air ketika mandi besar dapat membatalkan puasa? Jawab: Tidak mambatalkan puasa. Referensi:
Ber-istinjâ’ harus dilakukan dengan maksimal supaya kotoran dapat
benar-benar dibersihkan. Di sisi lain, bagi orang yang berpuasa masuknya
jari ke rongga dubur dapat membatalkan puasa. Sebatas mana masuknya
jari ke rongga dubur dapat membatalkan puasa?
Jawab: Ketika jari-jari masuk ke bagian dalam anus. Jika hanya menyentuh permukaan anus, maka tidak membatalkan. Referensi: & الفتاوى الفقهية الكبرى الجزء 2 صحـ : 74 مكتبة الإسلامية
وَمُلَخَّصُ عِبَارَتِهِ يَنْبَغِي لِلصَّائِمِ حِفْظُ أُصْبُعِهِ حَالَ
اَلإِسْتِنْجَاءِ مِنْ مَسْرَبَتِهِ فَإِنَّهُ لَوْ دَخَلَ فِيهِ أَدْنَى
شَيْءٍ مِنْ رَأْسِ أُنْمُلَتِهِ بَطَلَ صَوْمُهُ قَالَ السُّبْكِيُّ
وَهُوَ ظَاهِرٌ إنْ وَصَلَ لِلْمَكَانِ الْمُجَوَّفِ أَمَّا أَوَّلُ
الْمَسْرَبَةِ الْمُنْطَبِِِقِ فَإِنَّهُ لاَ يُسَمَّى جَوْفًا فَلاَ
فِطْرَ بِالْوُصُولِ إلَيْهِ اهـ
25. DAMPAK TIDAK GOSOK GIGI SEHABIS SAHUR
Mas Paijo sehabis sahur langsung tidur lagi tanpa terlebih dahulu
menggosok gigi. Akibatnya, sisa-sisa makanan masih terselip diantara
sela-sela gigi-giginya. Disiang harinya, sisa-sisa makanan tersebut ada
yang terbawa ketika menelan air ludahnya. Pertanyaan: a. Apakah puasa mas Paijo batal dalam kasus di atas? b. Wajibkah bagi mas Paijo menggosok gigi pada malam harinya, supaya mulut dalam keadaan bersih ketika berpuasa?
Jawab: a. Batal, jika pada saat menelan ludahnya ia mampu mengeluarkan sisa makanan tersebut. b. Tidak wajib, namun hal itu sangat dianjurkan Referensi:
Pak Durahem mempunyai tanggungan qadlâ’ puasa, karena pada saat bulan
Ramadlan Ia menderita sakit. Setelah sembuh dari sakitnya, Ia tidak
segera meng-qadlâ’-i puasanya dan beralasan bahwa bulan Ramadlan yang
akan datang masih lama. Namun tak disangka-sangka ternyata ajal
menjemputnya sebelum Ia sempat meng-qadlâ’-inya. Apakah ia termasuk
meninggal dalam keadaan maksiat?
Malam lailat
al-qadar merupakan malam yang penuh berkah. Di dalam al-Qur’an sendiri
diakui sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan. Namun bagi orang
yang ingin mendapatkanya, bagaikan mencari permata di dasar lautan.
Apakah untuk mendapatkan pahala yang dijanjikan pada malam lailat
al-qadar harus mengetahui bahwa malam itu adalah malam lailat al-qadar?
28. KEBIASAAN BERSENDAWA (JAWA; GLEGE’EN)
Pak Hasan mempunyai kebiasaan bersendawa (jawa; glege’en) setelah
melahap makanan dalam porsi yang lumayan banyak. Terkadang saat ia
bersendawa, makanan yang didalam perutnya keluar kembali seperti orang
yang muntah. Apakah baginya diperbolehkan makan sahur dengan porsi
jumbo, mengingat di pagi harinya, ia akan mengalami sendawa dan
mengeluarkan makanan dari perutnya?
Jawab: Diperbolehkan dan
tidak membatalkan puasa, sekalipun hal itu terjadi berulang-berulang.
Asalkan makanan yang keluar dari perutnya tersebut tidak ditelan lagi
dan diharuskan berkumur. Referensi: & حاشية الجمل الجزء 2 صحـ : 316 مكتبة دار الفكر
( فَرْعٌ ) أَكَلَ أَوْ شَرِبَ لَيْلاً كَثِيرًا وَعُلِمَ مِنْ عَادَتِهِ
أَنَّهُ إذَا أَصْبَحَ حَصَلَ لَهُ جَشًّا يَخْرُجُ بِسَبَبِهِ مَا فِي
جَوْفِهِ هَلْ يَمْتَنِعُ عَلَيْهِ كَثْرَةُ مَا ذُكِرَ أَمْ لاَ وَهَلْ
إذَا خَالَفَ وَخَرَجَ مِنْهُ يُفْطِرُ أَمْ لاَ فِيهِ نَظَرٌ وَيُجَابُ
عَنْهُ بِأَنَّهُ لاَ يُمْنَعُ مِنْ كَثْرَةِ ذَلِكَ لَيْلاً وَإِذَا
أَصْبَحَ وَحَصَلَ لَهُ الْجُشَاءُ الْمَذْكُورُ يَلْفِظُهُ وَيَغْسِلُ
فَاهُ وَلاَ يُفْطِرُ وَإِنْ تَكَرَّرَ ذَلِكَ مِنْهُ مِرَارًا كَمَنْ
ذَرَعَهُ الْقَيْءُ اهـ
29. MEMASUKKAN ANUS BAGI PENDERITA AMBEIYEN
Seseorang penderita penyakit ambeyen mudah sekali anusnya keluar,
lebih-lebih disaat membuang air besar. Sementara anus yang telah keluar,
sulit masuk ke dalam lagi, kecuali ada upaya bantuan dengan tangannya
sendiri. Batalkah puasa seseorang yang memasukkan bagian anusnya yang
keluar?
Jawab: Tidak batal. Namun menurut Imam Nawawi membatalkan puasa. Referensi: & تحفة المحتاج في شرح المنهاج الجزء 3 صحـ : 404 مكتبة دار إحياء التراث العربي
وَلَوْ خَرَجَتْ مَقْعَدَةُ مَبْسُورٍ لَمْ يُفْطِرْ بِعَوْدِهَا وَكَذَا
إنْ أَعَادَهَا كَمَا قَالَهُ الْبَغَوِيُّ وَالْخُوَارِزْمِيُّ
وَاعْتَمَدَهُ جَمْعٌ مُتَأَخِّرُونَ بَلْ جَزَمَ بِهِ غَيْرُ وَاحِدٍ
مِنْهُمْ لاِضْطِرَارِهِ إلَيْهِ وَلَيْسَ هَذَا كَاْلأَكْلِ جُوْعًا
الَّذِي أَخَذَ مِنْهُ اْلأَذْرَعِيُّ قَوْلَهُ اْلأَقْرَبُ إلَى كَلاَمِ
النَّوَوِيِّ وَغَيْرِهِ الْفِطْرُ وَإِنْ اُضْطُرَّ إلَيْهِ كَاْلأَكْلِ
جُوعًا اهـ
30. MENGHIRUP AROMA MASAKAN Bagi ibu rumah
tangga yang sedang memasak, menghirup aroma makanan tidak bisa dihindari
lagi. Apakah masuknya uap makanan ke hidung dapat membatalkan puasa?
31. AIR TERTELAN AKIBAT BERKUMUR
Berkumur ketika berwudlu hukumnya adalah sunah, baik bagi orang puasa
maupun tidak. Bagaimanakah hukum puasa seseorang ketika berkumur ada air
yang terlanjur masuk ke dalam perutnya?
Jawab: Tidak batal,
jika tidak dilakukan dengan berlebihan. Namun apabila dilakukan secara
berlebihan, maka dapat membatalkan puasa. Referensi: & تحفة المحتاج في شرح المنهاج الجزء 3 صحـ : 407 مكتبة دار إحياء التراث العربي
وَلَوْ سَبَقَ مَاءُ الْمَضْمَضَةِ أَوْ اَلإِسْتِنْشَاقِ إلَى جَوْفِهِ
الشَّامِلِ لِدِمَاغِهِ أَوْ بَاطِنِهِ فَالْمَذْهَبُ أَنَّهُ إنْ بَالَغَ
مَعَ تَذَكُّرِهِ لِلصَّوْمِ وَعِلْمِهِ بِعَدَمِ مَشْرُوعِيَّةِ ذَلِكَ
أَفْطَرَِ لأَنَّ الصَّائِمَ مَنْهِيٌّ عَنْ الْمُبَالَغَةِ كَمَا مَرَّ
وَيَظْهَرُ ضَبْطُهَا بِأَنْ يَمْلاَ فَمَهُ أَوْ أَنْفَهُ مَاءً بِحَيْثُ
يَسْبِقُ غَالِبًا إلَى الْجَوْفِ ( قَوْلُهُ وَيَظْهَرُ ضَبْطُهَا بِأَنْ
يَجْعَلَ بِفَمِهِ أَوْ أَنْفِهِ مَاءً إلَخْ ) قَدْ يُقَالُ ظَاهِرُ
كَلاَمِهِمْ ضَرَرُ السَّبْقِ بِالْمُبَالَغَةِ الْمَعْرُوفَةِ وَإِنْ لَمْ
يَمْلاَ فَمَهُ أَوْ أَنْفَهُ كَمَا ذُكِرَ سم عَلَى حَجّ اهـ ع ش (
قَوْلُهُ بِحَيْثُ يَسْبِقُ غَالِبًا إلَخْ ) أَيْ لِكَثْرَتِهِ وَيَظْهَرُ
أَنَّ مِثْلَهُ مَا لَوْ كَانَ الْمَاءُ قَلِيلاًلَكِنَّهُ بَالَغَ فِي
إدَارَتِهِ فِي الْفَمِ وَجَذْبِهِ فِي اْلأَنْفِ إدَارَةً وَجَذْبًا
يَسْبِقُ مَعَهُمَا الْمَاءُ غَالِبًا بَصْرِيٌّ اهـ
32. BATASAN ADAT TERKAIT PUASA NISHFU SYA'BAN
Berpuasa pada paruh akhir bulan Sya'bân hukumnya haram, kecuali bagi
meraka yang sebelumnya sudah membiasakan puasa. Sebatas manakah
seseorang dianggap "membiasakan puasa" terkait masalah diatas?
Jawab: Ketika orang tersebut pernah melakukan puasa sebelum separuh
akhir bulan Sya'bân, meskipun hanya seminggu sekali atau sebulan sekali,
dengan syarat terus dilakukan. Apabila sebelum separuh akhir bulan
Sya'bân pernah absen, meskipun hanya satu kali, maka ia tidak
diperkenankan melakukan puasa pada paruh akhir bulan Sya'bân. Referensi: & الفتاوى الفقهية الكبرى الجزء 2 صحـ : 76 مكتبة الإسلامية
( وَسُئِلَ ) فَسَّحَ اللَّهُ فِي مُدَّتِهُ بِمَا لَفْظُهُ يَحْرُمُ
الصَّوْمُ بَعْد نِصْفِ شَعْبَانَ إنْ لَمْ يَعْتَدْهُ أَوْ يَصِلُهُ بِمَا
قَبْلَهُ مَا ضَابِطُ الْعَادَةِ هُنَا وَيَوْمِ الشَّكّ ( فَأَجَابَ )
بِقَوْلِهِ الَّذِي يَظْهَرُ أَنَّهُ يُكْتَفَى فِي الْعَادَةِ بِمَرَّةٍ
إنْ لَمْ يَتَخَلَّل فِطْرُ مِثْل ذَلِكَ الْيَوْمِ الَّذِي اعْتَادَهُ
فَإِذَا اعْتَادَ صَوْمَ اَلإِثْنَيْنِ فِي أَكْثَرِ أَسَابِيعِهِ جَازَ
لَهُ صَوْمُهُ بَعْد النِّصْفِ وَيَوْمِ الشَّكِّ وَإِنْ كَانَ أَفْطَرَهُ
قَبْلَ ذَلِكَ ِلأَنَّ هَذَا يَصْدُقُ عَلَيْهِ عُرْفًا أَنَّهُ
مُعْتَادُهُ وَإِنْ تَخَلَّلَ بَيْن عَادَتِهِ وَصَوْمِهِ بَعْد النِّصْفِ
فَطَرَهُ وَأَمَّا إذَا اعْتَادَهُ مَرَّةً قَبْلَ النِّصْفِ ثُمَّ
أَفْطَرَهُ مِنْ اْلاًسْبُوعِ الَّذِي بَعْدَهُ ثُمَّ دَخَلَ النِّصْفُ
فَالظَّاهِرُ أَنَّهُ لاَ يَجُوزُ لَهُ صَوْمُهُ ِلأَنَّ الْعَادَةَ
حِينَئِذٍ بَطُلَتْ بِفِطْرِ الْيَوْمِ الثَّانِي بِخِلاَفِ مَا إذَا صَامَ
اَلإِثْنَيْنِ الَّذِي قَبْلَ النِّصْفِ ثُمَّ دَخَلَ النِّصْفُ مِنْ
غَيْرِ تَخَلُّلِ يَوْمِ اثْنَيْنِ آخَرَ بَيْنَهُمَا فَإِنَّهُ يَجُوزُ
صَوْمُ اَلإِثْنَيْنِ الْوَاقِعِ بَعْدَ النِّصْفِ ِلأَنَّهُ اعْتَادَهُ
وَلَمْ يَتَخَلَّلْ مَا يُبْطِلُ الْعَادَةَ فَإِذَا صَامَهُ ثُمَّ
أَفْطَرَهُ مِنْ أُسْبُوعٍ ثَانٍ ثُمَّ صَادَفَ اَلإِثْنَيْنِ الثَّالِثُ
يَوْمَ الشَ
Tidak ada komentar:
Posting Komentar